Posted in Urban Legends

[URBAN LEGENDS] Hachishakusama/Eight Feet Tall

Hachishakusan.jpg

“Hachishakusama” atau “Eight Feet Tall” adalah urban legend asal Jepang  tentang hantu perempuan yang tingginya delapan kaki (Dari namanya aja udah kebaca, sih) Tiap bergerak atau muncul, dia suka mengatakan “Po… Po… Po…. Po….” dengan suara bass pria walaupun sebenarnya ia adalah seorang wanita.

Ciri Fisik

Dari berbagai kesaksian orang-orang, terdapat beberapa versi tentang bagaimana ia terlihat. Ada yang bilang ia adalah nenek tua kurus kering berkimono, dan ada juga yang mengatakan dia adalah gadis yang mengenakan baju putih khas pemakaman Jepang. Ada juga yang menggambarkan ia mengenakan topi jerami aneh seperti gambar di atas.

Target

Targetnya adalah anak-anak. Konon katanya, itu dikarenakan anak-anak adalah generasi penerus suatu keluarga, jadi kelabuhi anak-anaknya, maka keluarga akan hancur juga. Dan, menipu anak-anak lebih mudah daripada orang dewasa.

Dikisahkan, kalau Hachishakusama juga bisa menirukan suara orang-orang yang kita kenal sehingga ia bisa dengan mudah menipu kita. Apabila sudah menjadi targetnya yang ia sukai, sangat sulit untuk mengusirnya pergi atau pun sekedar lepas darinya.

Apalagi, hanya anak yang ditarget itu saja yang dapat melihat dan mendengar suara-suaranya. Tak ada orang lain yang dapat menolongnya. Dan sekalinya ia sudah tertipu dengan tipuan Hachishakusama… Ia tak akan selamat.

Setelah selamat pun, mereka tak boleh kembali ke tempat mereka bertemu dengan Hachishakusama, mereka harus pindah ke luar negeri dan jangan sekali-sekali kembali ke negara itu. Setelah sudah lewat bertahun-tahun pun, jangan. 

 

Kisah tentang Hachishakusama (Re written by Viona A)

Tidak terasa, musim panas kembali tiba.

Musim panas sudah datang! Artinya aku bisa kembali bermain di rumah kakek dan nenekku di Jepang.

Aku sudah tidak sabar untuk bermain kembali di sawah dan sungai sekitar rumah mereka. Apalagi, halaman belakang rumah mereka yang luas, bisa kujadikan taman bermainku sepanjang hari. Tidak ada pr, tidak ada tugas, benar-benar menyenangkan!

Terakhir kali aku ke sana adalah musim panas lalu, saat aku berumur delapan tahun. Dalam setahun, apa yang bisa berubah dari desa yang tenang itu, ya?

Aku terus menimbang-nimbang sambil bergumam sepanjang perjalanan kami dari bandara menuju rumah mereka.

Akhirnya, kami sampai di rumah sederhana milik kakek dan nenek. Mereka menyambutku—yang merupakan cucu satu-satunya—dengan sangat senang. Mereka bahkan menyediakan hadiah kecil khusus untukku.

“Um… Kami mau mengeksplorasi kota Jepang berdua, bisa titip Sachan  (nama diawur :v) sebentar, Yah?” kata Ibuku saat kami sudah selesai menurunkan barang.

Kakek dan nenekku tersenyum penuh arti sebelum mengangguk dan melambaikan tangan saat mobil ayah dan ibuku melaju meninggalkanku dengan kakek dan nenek.

Kemudian, setelah melihat mobil mereka menghilang dari peredaran, kakek dan nenekku langsung menyuruhku masuk ke rumah. Mereka menyediakan berbagai makanan dan permen di atas meja khusus untukku. Tapi, saat ini, aku cuma ingin bermain di halaman luas yang tidak kami miliki di kota, jadi aku segera berlari ke halaman belakang dan memulai petualanganku.

Aku berlarian ke sana dan kemari sejenak sebelum akhirnya kehabisan energi dan memutuskan untuk berbaring di rerumputan sambil mengatur napas—mengisi kembali energiku yang sudah terkuras.

Kupandangi sederetan awan putih yang menggumpal seperti kapas sambil menikmati hangatnya sinar mentari. Angin yang ramah meniup wajahku dengan lembut, membuatku merasa sejuk.

Po… Po… Po… Po… Po… Po…

Tiba-tiba aku mendengar suara yang begitu aneh dari jarak yang begitu dekat.

Aku tidak tahu suara apa itu, dan sulit untuk mengetahui darimana suara itu berasal. Suaranya hampir seperti seseorang sedang berbicara sendiri… Seperti mereka hanya mengucapkan, “Po… Po… Po…“, berulang kali dengan suara maskulin yang dalam.

Aku mengedarkan pandanganku dengan teliti, berusaha mencari sumber suara tersebut. Tiba-tiba aku menangkap sesuatu di belakang pagar setinggi delapan kaki.

Sebuah topi jerami.

Anehnya, benda itu tidak tergeletak di atas pagar, tetapi seakan berada di baliknya.

Po… Po… Po… Po… Po… Po… Po…

Aku dapat mendengar suara itu lagi. Tepat berasal dari topi tersebut

Dengan alis bertaut, aku berusaha mengintip ke balik pagar untuk sekedar mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Sak… Sak… Sak…

Topi itu mulai bergerak, seakan ada seseorang yang memakainya. Topi itu bergerak, dan terus bergerak hingga berhenti pada sebuah celah kecil di pagar.

Dapat kulihat sesosok wajah seorang wanita yang mengintip dari sana

Deg

Rasanya jantungku mencelos jatuh ke perut. Aku ingin berlari, tapi sayangnya, rasa penasaranku malah memaku kakiku agar diam di tempat—tetap melihat ke arah wanita aneh itu.

Apa ia mengenakan jangkungan? Atau sepatu berhak sangat tinggi? Bagaimana tingginya bisa mencapai delapan meter?

Setelah aku melihat mata itu berkerut ke atas—seperti mata orang yang sedang tersenyum bahagia—wanita itu berbalik, dan berjalan pergi. Ia berjalan ke belakang perlahan, dan perlahan, hingga akhirnya, ia menghilang dari peredaran, diikuti oleh hilangnya suara Po aneh yang sedari tadi menggema di telingaku.

Dengan jantung yang masih berdegub cepat, aku segera menerjang masuk ke dalam rumah.

“Kakek! Nenek! Aku melihat wanita aneh bertopi jerami!” pekikku sambil duduk di meja—bergabung dengan mereka yang sedang menikmati secangkir teh hijau. “Dia begitu tinggi! Dan aneh! Dia tersenyum padaku!”

Kakek dan nenekku hanya tersenyum ke arahku tanpa reaksi, apa mungkin wanita itu adalah teman mereka?

“Dan dia selalu mengatakan Po… Po… Po… Po—“ “Tunggu, dia berkata Po… Po… Po…?” Kakekku memotong dengan ekspresi yang sulit kuartikan.

Matanya melebar, aku dapat merasakan tangannya bergetar saat memegang bahuku.

Ketika aku melirik ke arah nenek pun, matanya mulai melebar dan berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya dengan tangannya, seakan aku baru saja mengatakan hal yang menyedihkan.

Apa ini begitu penting?

“Ini sangat penting,” sahut kakekku dengan nada yang begitu kuat, seakan ia bisa membaca pikiranku. “Kau harus benar-benar memberitahu kami… Seberapa tinggi dia?”

“Um… Setinggi pagar kebun?” jawabku, mulai merasa ketakutan.

“Di mana dia berdiri? Kapan ini terjadi? Apa yang kau lakukan? Apakah ia melihatmu?” Kakekku menghujaniku dengan beribu pertanyaan.

Tanpa kusadari, air mata menetes melalui pelupuk mataku. Jantungku kembali berdegub cepat, begitu juga tubuhku yang sekarang gemetaran dan terasa panas. Aku merasa panik, ketakutan, apa sih yang sedang terjadi?

“Haku hidak hau… Hia hi hana hi hagal haat haku helmain. Hungkin hihat.” (Aku tidak tahu… Dia di pagar saat aku bermain. Mungkin lihat.) jawabku sebisaku sambil masih terisak.

Tanpa menghiraukanku, kakek pergi ke lorong dan menggapai telepon. Ia menekan nomor-nomor, lalu berbicara dengan seseorang yang tersambung di ujung telepon, sedangkan nenekku berusaha menenangkanku dengan memelukku. Aku bisa merasakan irama jantungnya yang begitu cepat dan tubuhnya yang bergetar.

Setelah beberapa menit, kakek kembali ke dalam ruangan dan berkata, “Aku keluar sebentar. Kau tinggal di sini dengan Sachan, jangan lepaskan pandangan darinya. Satu detik pun.”

“Hada hapa Kek? (Ada apa Kek?)” tanyaku di sela-sela isakanku.

Ia menatap mataku sejenak dengan ekspresi yang sulit diartikan sebelum berkata, “Kau telah disenangi oleh Hachishakusama, Nak.”

Setelah itu ia naik ke dalam truk tuanya dan melaju pergi.

“Siapa Hachishakusama?” tanyaku saat aku sudah merasa lebih tenang.

“Dia…” Ia menggantungkan kalimatnya di udara sambil mencari kata yang tepat.

“Dia siapa?” desakku sambil memegangi kedua tangannya yang sudah berkeriput.

“Jadi, semenjak jaman dulu kala, ada makhluk yang menghantui daerah ini. Kita memanggilnya Hachishakusama karena tingginya mencapai delapan kaki. Ia sering berubah-ubah wujud, tapi tingginya dan suaranya saja yang tidak pernah berubah.” jelasnya.

Aku yang tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya hanya manggut-manggut di tempat.

“Pada zaman dahulu, ia ditangkap oleh para biksu dan mereka berhasil memenjarakannya di sebuah reruntuhan bangunan di pinggiran pedesaan. Mereka menjebaknya dengan menggunakan 4 patung relijius kecil yang disebut “jizo“, yang mereka tempatkan di sebelah utara, selatan, timur dan barat reruntuhan dan seharusnya makhluk itu tidak bisa pergi dari sana. Entah bagaimana, makhluk itu bisa lolos.” sambungnya.

“Dan…?”

“Terakhir kali makhluk itu muncul adalah 15 tahun yang lalu. Siapapun yang melihatnya ditakdirkan akan mati dalam beberapa hari.” lanjutnya dengan nada sedih.

Lagi-lagi, jantungku kembali jatuh ke perut.

Semua ini terdengar gila di telingaku. Otakku rasanya tidak dapat mencerna semua ini sehingga sepertinya sebentar lagi kepalaku akan meledak menjadi berkeping-keping.

Tapi, apakah artinya kalau aku sudah melihat Hachishakusama aku tidak akan selamat?

Berarti, aku tidak bisa bertemu lagi dengan kakek-nenek? Dan orang tuaku? Dan teman-teman di sekolah? No way! Aku masih ingin hidup! Masa tidak ada cara untuk menyelamatkanku? Pergi kembali ke kotaku, misalnya?

Tiba-tiba, aku dapat mendengar suara khas truk kakek dari kejauhan.

Tak lama kemudian, kakek kembali masuk ke dalam rumah bersama dengan seorang wanita tua yang memperkenalkan dirinya sebagai “K-san”. K-san memberikan selembar perkamen kusut padaku dan menyuruhku memegangnya erat-erat sebelum ia pergi ke atas dengan kakek.

Akhirnya, aku ditinggal di dapur hanya berdua dengan nenekku lagi.

Tiba-tiba aku merasa ingin ke kamar mandi. Ketika aku bilang padanya bahwa aku akan ke kamar mandi dan segera kembali, ia bersikeras untuk mengikutiku. Bahkan, ia tidak memperbolehkanku untuk menutup pintunya.

Memangnya, segawat apa, sih?

“Sachan, kemarilah!” panggil kakek dari lantai atas.

Aku bergegas naik ke kamarku—tempat kakek dan K-san sedang berdiri. Aku begitu terkejut saat melihat keadaan kamarku! Mereka mengubahnya menjadi tempat yang mengerikan, seperti kamar yang sudah lama tidak dipakai. Jendela-jendelanya telah ditutupi oleh kertas koran dan banyak rune kuno dituliskan pada kertas-kertas itu. Ada mangkuk kecil berisi garam di empat setiap sudut ruangan dan sebuah patung buddha kecil di tempatkan di tengah-tengah ruangan di atas sebuah kotak kayu. Di sana juga terdapat sebuah ember berwarna biru cerah.

“Untuk apa semua ini?” tanyaku sambil melihat sekeliling ruangan.

“Untuk melindungimu.” jawab K-san dingin.

“Dan… Ember itu?” tanyaku lagi sambil menunjuk ke ember biru cerah yang begitu mencolok di antara barang lainnya.

“Untuk kau buang air kecil dan besar.” jawab kakek.

Hampir saja aku tertawa terbahak-bahak karena berpikir ia sedang melucu, tapi ternyata, ia benar-benar serius soal ember itu.

K-san mendudukkanku di tempat tidur dan berkata, “Sebentar lagi matahari akan terbenam, jadi dengarkan baik-baik. Kau harus tinggal di kamar ini sampai esok pagi. Kau tidak boleh keluar dalam keadaan apapun sampai pukul 7 besok pagi. Nenekmu dan kakekmu tidak akan berbicara padamu atau memanggilmu sampai saat itu. Ingatlah, jangan pergi dari kamar ini, apapun alasannya sampai nanti. Aku akan memberitahu orangtuamu apa yang sedang terjadi.”

Ia berbicara dan menatapku dengan sangat sungguh-sungguh, sehingga aku cuma bisa diam, balik menatapnya, sambil mengangguk.

“Kau harus mengikuti perintah K-san baik-baik,” pesan kakek. “Dan jangan pernah melepaskan perkamen yang ia berikan padamu. Dan jika terjadi sesuatu, berdoalah pada buddha. Dan pastikan kau mengunci pintu ini ketika kami pergi.”

Mereka pun segera keluar menuju lorong setelah aku mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan pada mereka. Aku segera menutup pintu kamar dan menguncinya. Kunyalakan televisi, tapi aku terlalu gugup untuk mencerna acara yang ditayangkan, jadi aku hanya memandangi layarnya dengan tatapan kosong.

Nenek meninggaliku beberapa makanan ringan, permen, dan bola-bola nasi, tapi aku sama sekali tidak berselera. Aku merasa seperti berada di penjara dan aku sangat depresi. Sangat ketakutan. Aku berbaring di atas tempat tidur tanpa mematikan televisiku. Sebelum aku mengetahuinya, aku tertidur.

Tap… Tap… Tap…

Aku kembali membuka mata saat mendengar suara seseorang yang sedang mengetuk-ngetuk jendela. Kulihat jam yang terlilit di tangan kananku, dan jarumnya menunjuk angka satu.

Tap… Tap… Tap…

Aku mendengar suara itu lagi, tapi aku terlalu takut untuk berkutik. Darah berdesir di telingaku, membuat seluruh bulu dalam tubuhku meremang. Tanpa kusadari, aku menahan napasku dan menelan ludah.

“Itu cuma suara angin… Itu cuma suara angin…” Aku berusaha menenangkan diri sendiri dengan meggumamkan kalimat itu berulang kali.

Kuraih remote TV dan menaikkan volumenya untuk meredam suara ketukan yang seakan tidak akan pernah berhenti tersebut. Akhirnya, suara ketukan itu menghilang.

Aku mengecilkan volume TVku lalu menghela napas lega.

“Apa kau baik-baik saja di sana?” Aku dapat mendengar kakek mengetuk pintu kamarku. “Kalau kau takut, aku bisa menemanimu.”

Senyum langsung memuai pada wajahku.

Aku bergegas menuju pintu, tapi langkahku terhenti saat hati kecilku membisikkan bahwa itu bukan Kakek. Suaranya memang sama, tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda. Entah bagaimana, aku hanya tahu…

“Apa yang kau lakukan, Sachan?” sambungnya. “Kau boleh membuka pintu ini sekarang.”

Aku membeku di tempat—sesuatu yang dingin seakan merayapi tulangku. Ketika aku melihat ke arah garam di sudut ruangan, warna putihnya perlahan berunah menjadi hitam.
Jantungku kembali berdegub cepat. Detik jarum jam di dinding terdengar seakan lebih keras dan lebih cepat dari biasanya. Dapat kurasakan keringat dingin mengucur dari punggungku. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan—apalagi saat suara itu memanggil namaku lagi.

Begitu kudapatkan kembali kesadaranku, aku langsung menjauh dari pintu, dan berlutut di depan patung buddha. Kucengkeram erat lembaran perkamen di tanganku, dan mulai berdoa minta pertolongan dengan putus asa.

“Tolong selamatkan aku dari Hachishakusana…” raungku.

Seketika itu juga, aku dapat mendengar suara dari luar pintu yang berbunyi,

Po… Po… Po… Po… Po… Po… Po…

Selanjutnya, ketukan di jendela mulai terdengar kembali.

Aku benar-benar dikuasai oleh rasa takut. Aku hanya bisa mematung di tempat dengan posisi berjongkok di depan patung—setengah menangis, dan setengah berdoa selama sisa malam itu.

Rasanya seperti tidak akan berakhir.

Tapi akhirnya, ketika aku mendapatkan kembali kesadaranku, tahu-tahu saja hari sudah pagi.

Keempat mangkuk garam di sudut ruangan sudah berubah menjadi hitam.

Kemudian, aku memeriksa jam tanganku.

Sudah pukul 7.30 pagi.

Dengan hati-hati, aku membuka pintu. Nenek dan K-san sedang berdiri di luar, menungguku. Ketika ia melihat wajahku, nenek mulai menangis.

“Aku begitu senang kau masih hidup,” katanya sambil memelukku.

Selepas itu, mereka membawaku turun ke bawah. Ayah dan ibuku pun sudah duduk di dapur.

Baru aku membuka mulut untuk menyapa mereka, kakekku sudah masuk ke dalam rumah dan memekik, “Cepatlah! Kita harus berangkat sekarang!”

Kami semua bergegas keluar melalui pintu depan. Di sana, sudah ada sebuah mobil van hitam yang menunggu kedatangan kami. Beberapa pria yang sering kulihat di sekitar sini, sedang berdiri mengelilinginya.

“Itu anaknya.” Mereka saling berbisik satu sama lain seakan tengah melihat seorang artis.

Mobil van itu memiliki 9 tempat duduk dan mereka menaruhku di tengah-tengah—dikelilingi oleh delapan pria. Sedangkan K-san duduk di kursi pengemudi. Kakek mengemudi di mobil depan, dan mobil ayahku mengikuti di belakang.

“Kau berada di tengah kesulitan. Aku tahu kau mungkin khawatir. Tundukkan saja kepalamu dan tutup matamu. Kami tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa. Jangan buka matamu sampai kami berhasil mengamankanmu dari sini.” katanya, masih dengan nada serius yang selalu ia gunakan.

Ketika semua orang sudah siap, konvoi kecil kami mulai bergerak. Kami berkendara cukup pelan… Mungkin sekitar 20 km/jam atau kurang.

Setelah beberapa saat, aku dapat mendengar K-san berkata, “Di sinilah yang mulai sulit.”

Kemudian ia mulai komat-kamit membaca mantra.

Po… Po… Po… Po… Po… Po… Po…”

Aku mendengar suara itu lagi. Kucengkeram perkamen yang diberikan K-san di tanganku weat-erat sambil masih menundukkan kepalaku.

Tetapi kemudian, rasa penasaran mendorongku untuk mengintip keluar.

Dapat kulihat sebuah gaun putih berkibar di tiup angin. Ia bergerak mengikuti mobil van kami. Tingginya delapan kaki. Ia berada di luar jendela, namun ia terus melangkah bersama kami.

Lalu, tiba-tiba dia membungkuk dan mengintip ke dalam van.

“T-TIDAK!” aku terkesiap.

Pria di sampingku langsung menghardik, “Tutup matamu!”

Butuh usaha keras untuk menutup kembali mataku. Suara ketukan jendela yang amat mengganggu itu, tiba-tiba terdengar kembali, diikuti dengan suara Po Po itu lagi.

Po… Po… Po… Po… Po… Po… Po…”

Suaranya semakin keras dan keras, hingga akhirnya aku dapat mendengar ketukan di seluruh jendela di sekeliling kami.

Semua ini benar-benar membuatku menjadi gila. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, mengumpat wanita gila itu dan menyuruhnya pergi, tapi sayangnya aku tidak punya cukup keberanian untuk itu.

Semua pria di dalam van kaget dan pada akhirnya, mereka bergumam sendiri.  Mereka tidak bisa melihat si tinggi delapan kaki dan mereka tidak bisa mendengar suaranya, namun sepertinya, mereka bisa mendengar ketukan di jendela.

K-san mulai berdoa keras-keras dan semakin keras sampai ia hampir seperti berteriak.

Ketegangan di dalam van benar-benar tak tertahankan.

Setelah beberapa saat, ketukan itu berhenti dan suaranya menghilang.
K-san menoleh ke arah kami dan berkata, “Kurasa kita sudah aman sekarang.”

Dapat kudengar semua pria di sekelilingku menghela nafas lega. Mobil van itu menepi di pinggir jalan, dan semua pria keluar. Mereka memindahkanku ke dalam mobil ayahku. Ibuku memelukku dan air mata mengalir di pipinya.
Kakek dan ayahku menunduk pada para pria-pria itu sebelum mereka berjalan pulang. K-san berjalan ke jendela dan memintaku menunjukkan lembaran perkamen yang ia berikan padaku. Ketika aku membukanya, aku melihat lembaran itu berubah menjadi benar-benar hitam.

“Kurasa, kau akan baik-baik saja sekarang,” katanya. “Tapi, untuk meyakinkannya, peganglah benda ini untuk sementara.” Dia memberikan padaku selembar perkamen baru.

Setelah itu, kami berkendara menuju bandara diikuti kakek yang ingin memastikan kami benar-benar selamat. Ketika kami sudah lepas landas, orangtuaku menghela nafas lega. Ayahku memberitahuku ia pernah mendengar soal “si tinggi delapan kaki” sebelumnya. Bertahun yang lalu, temannya telah di sukai olehnya. Bocah laki-laki itu menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.

Ayahku berkata ada orang-orang lainnya yang telah di sukainya dan masih hidup untuk menceritakannya. Mereka semua harus pergi meninggalkan Jepang dan menetap di luar negeri. Mereka tidak pernah bisa kembali ke kampung halaman mereka.

Dia selalu memilih anak-anak sebagai korbannya. Mereka bilang itu karena anak-anak masih bergantung pada orangtua dan anggota keluarganya. Ini membuat mereka mudah diperdaya ketika ia berpura-pura sebagai keluarganya.

Dia berkata bahwa para pria yang berada di dalam van, semuanya memiliki hubungan darah denganku. Hal itu menjadi alasan mengapa mereka duduk mengelilingiku, dan mengapa ayah dan kakekku berkendara di depan dan di belakang.

Itu semua di lakukan untuk mencoba membingungkan hachisakusama.

Butuh beberapa waktu untuk menghubungi mereka dan mengumpulkan mereka semua, itulah sebabnya mengapa aku di kurung di kamar semalaman.

Dia memberitahuku bahwa benda kecil yang disebut patung jizo (benda dimana seharusnya ia tetap terperangkap) telah rusak, dan itulah bagaimana dia bisa lolos.

Hal itu membuatku merinding.

Selama lebih dari sepuluh tahun semenjak kejadian itu, aku tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenekku lagi.

Aku belum mampu menginjakkan kakikku di sana lagi.

Sebagai gantinya, aku menelepon mereka setiap beberapa minggu dan bicara dengan mereka melalui telepon.

Selama bertahun-tahun, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah sebuah urban legend, bahwa semua yang telah terjadi hanyalah sebuah lelucon yang rumit.

Namun, aku tidak terlalu yakin.

Kakekku meninggal dua tahun yang lalu. Ketika dia sakit, dia tidak mengizinkanku untuk menjenguknya, dan dia juga meninggalkan perintah ketat dalam surat wasiatnya, bahwa aku tidak boleh menghadiri pemakamannya.

Itu semua tentu sangat menyedihkan.

Nenekku menelepon beberapa hari yang lalu. Dia berkata bahwa dia didiagnosa mengidap penyakit kanker. Dia sangat merindukanku dan ingin bertemu denganku untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal.

“Apa Nenek yakin?” tanyaku. “Apakah sudah aman?”

“Semua itu sudah lama sekali! Sudah sepuluh tahun.” jawabnya. “Kau juga sudah dewasa sekarang. Aku yakin tidak akan ada masalah.”

“T-Tapi… Bagaimana dengan Hachishakusama?” tanyaku setengah berbisik.

Selama beberapa saat, suasana mendadak hening. Kupikir terjadi sesuatu di ujung telepon karena aku sudah merasa panik setengah mati.

Kemudian, aku mendengar suara maskulin yang dalam.
Po… Po… Po… Po… Po… Po… Po…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s